JAGAT SENI

Ikon

semua seni, seni semua

Ni Ketut Cenik Maestro Joged Pingit Meninggal Dunia

Denpasar (ANTARA News, 26 Juli 2010) – Ni Ketut Cenik (86), maestro penari joged pingit dan legong playon kesenian klasik Bali, meninggal dunia ketika dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, Bali.

“Dia menghembuskan nafas terakhir Sabtu malam (24/7) pukul 21.20 Wita dan jenazah langsung dibawa ke rumah duka, Desa Batuan Kabupaten Gianyar,” kata Ketua Sanggar Seni Panti Pusaka Budaya Desa Batuan I Nyoman Budiartha, SSN ketika dihubungi ANTARA News, Senin.

Nyoman Budiartha mengatakan, Ketut Cenik sempat menjalani perawatan selama dua minggu akibat menderita sakit jantung basah.

“Jenazah disemayamkan di rumah duka dan Minggu (25/7) dikuburkan di setra Alas Harum Desa Adat Batuan,” tutur Nyoman Budiartha yang juga cucu almarhum, seraya menjelaskan upacara pengabenan jenazah almarhum masih menunggu hari baik.

Semasa hidupnya Ketut Cenik menjadikan seni tabuh dan tari Bali bagian dari kehidupan yang dilakoninya sehari-hari.

Berkat kepiawaiannya dalam bidang tari itu mengantarkan dirinya pernah mengadakan lawatan ke sejumlah negara di dunia dan terakhir 2008 selama sebulan ke Jepang.

Ketut Cenik pernah menjadi bintang tamu selama pelaksanaan Batuan Art Festival (BAF) III 29 Mei-2 Juni 2008 di Desa Batuan, Kabupaten Gianyar, Bali.

Penampilannya saat itu bersama seniman binaannya mampu menarik perhatian ribuan wisatawan mancanegara dan nusantara sedang menikmati liburan di Pulau Dewata.

Sejumlah pimpinan biro perjalanan wisata (BPW) asing yang menyaksikan kelincahan nenek dari sejumlah cucu itu secara spontanitas melakukan “penawaran” untuk mengajak Ni Ketut Cenik pentas keliling ke sejumlah kota besar di Jepang.

BPW yang menangani kunjungan wisatawan Jepang berliburan ke Bali akhirnya mengajak Ni Ketut Cenik yang tergabung dalam tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke Negeri Matahari Terbit.

Ni Ketut Cenik yang mengantongi segudang penghargaan atas prestasi dan dedikasinya dalam bidang seni termasuk Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dari Pemprov Bali dalam bidang seni itu, kiprahnya berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan seniman, termasuk diantaranya seniman besar kenamaan yang sanggup meneruskan upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya di Pulau Dewata.

Prestasi yang diraihnya itu melalui perjalanan sejarah cukup panjang, berawal dari ketika masa kanak-kanak, berusaha belajar secara terus belajar, hingga akhirnya mampu menguasasi sejumlah tarian, yang hingga sekarang sulit dipelajari oleh seniman muda.

Seniwati alam yang telah berhasil mencetak kader-kader penerus, dilakukan tidak hanya dalam lingkungan desanya di Batuan, namun hampir seluruh pelosok pedesaan di Bali.

Ibu dua putra-putri yang telah dikaruniai tujuh cucu serta tiga cicit itu mempunyai motto “Seniman adalah sebuah dendam sekaligus pengabdian dan kecintaan”.

Dalam perjalanan sejarah hidupnya yang panjang itu, Ni Ketut Cenik boleh dikatakan sebagai salah seorang penari “top” Pulau Dewata.

Berawal dari belajar tari Joged Pingitan pada seniman I Wayan Kuir, kemudian belajar tari Arja pada Anak Agung Mandra Ukiran. Namun anehnya, Cenik merasa tidak pernah dipintarkan oleh kedua gurunya itu.

Bagi Ketut Cenik belajar sendiri dan mencari sendiri apa itu menari, lebih penting dari belajar pada seseorang guru. Akhirnya Cenik mulai membagikan kepandaiannya menari kepada orang lain.

Mulailah Ni Ketut Cenik mengajarkan tari Arja, yang diawalinya dari sekitar desanya. Tak cukup hanya disitu, Cenik kemudian mengajar tari, khususnya Arja sampai ke Tabanan, Desa Culik, Karangasem, Peliatan, Palasari, Tampaksiring, Tegenungan di Kabupaten Gianyar.

Selain itu ikut bergabung membina kesenian yang dilakukan secara formal oleh Pemkab Gianyar, khususnya menyangkut Joged Pingitan dalam rangka persiapan duta Kabupaten Gianyar pada awal Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar tahun 1978, tutur Nyoman Budiartha.
(T.I006/A023/P003)

http://www.antaranews.com/berita/1280116833/ni-ketut-cenik-maestro-joged-pingit-meninggal-dunia

Filed under: pertunjukan, , ,

Pameran Kaligrafi di Wisata Religi Ampel Surabaya

Surabaya (ANTARA News, 26 Juli 2010) – Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Wisata Religi Ampel, Surabaya, Jawa Timur, menggelar pameran kaligrafi menyambut bulan suci Ramadhan 1431 Hijriyah di Jalan Pegirian selama lima hari mulai 28 Juli hingga 1 Agustus 2010.

“Ini program dan gelaran pertama kalinya untuk pameran seni kaligrafi. Tujuan utamanya memang menyambut bulan suci Ramadhan yang tidak lama lagi tiba,” ujar Kepala UPTD Wisata Religi Ampel Mustofa Kholil ketika ditemui di ruangannya.

Pameran akan dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya, Wiwik Widyawati, Rabu (28/7). Melalui pameran tersebut diharapkan, peminat dan pencinta karya seni, khususnya kaligrafi bisa terakomodasi.

“Saat ini sangat jarang digelar pameran seni kaligrafi, padahal kalau ingin digali, potensi kesenian Islami ini sangat luar biasa. Inilah salah satu alasan mengapa pemerintah menggelar pameran kaligrafi,” tukas dia.

Dalam pameran itu, panitia pelaksana memberikan tema “Istikharah” yang berarti memohon petunjuk kepada Allah SWT. Kata Mustofa, tema tersebut dinilai bisa membuat siapa saja berusaha meraih petunjuk dan ridho-Nya.

Dikatakan Mustofa, akan ada sekitar 10 seniman yang akan memamerkan hasil karyanya, di antaranya Bambang Tri, Sulaiman, Djoko Sutrisno, Iwan Suwarno, Imaduddin, Nasrudin, Rohman Gundih, Sulton, Wadji MS dan beberapa seniman kaligrafi lainnya.

Hasil karya mereka akan dipajang di enam stan yang dipersiapkan panitia. Setiap stan akan dibedakan berdasarkan produksi dan bahan membuat seni kaligrafi.

Disinggung mengenai target digelarnya pameran, Mustofa mengaku pameran ini untuk mengidentifikasi kesenia berupa lukisan dan kerajinan kaligrafi di Surabaya. Selain itu, yang terpenting adalah memberikan ruang bagi seniman – seniman kaligrafi untuk berkarya.

“Tentunya juga untuk mengembangkan seni kaligrafi yang seolah hilang dari pandangan masyarakat, sekaligus untuk mempromosikan objek wisata religi Sunan Ampel,” paparnya.

Mustofa juga menuturkan bahwa perhelatan pameran kaligrafi ini merupakan forum silaturahmi budaya antara perupa dan masyarakat untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bersinergi.

“Secara fisik mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas kekaryaan, secara ideologi peningkatan pada kedalaman tafsir, individu dan psikologis mampu mempengaruhi nilai keimanan, baik pelaku maupun masyarakat,” jelasnya.
(T.ANT-165/I007/P003)

http://www.antaranews.com/berita/1280154916/pameran-kaligrafi-di-wisata-religi-ampel-surabaya

Filed under: seni rupa, ,

Dalang Thengul Lebih Laku di Bojonegoro

Bojonegoro (ANTARA News) – Dalang wayang Thengul Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), lebih laku ditanggap masyarakat, dibandingkan dengan dalang wayang kulit.

“Dari data yang ada pertunjukan wayang thengul lebih diminati masyarakat, tidak hanya di Bojonegoro juga luar daerah,” kata Kepala Bidang Pelestarian Nilai Budaya dan Sejarah Dinas Pariwisata Bojonegoro, Saptatik, Kamis.

Dia memberikan gambaran, pada bulan Juni lalu dari 18 dalang wayang thengul di Bojonegoro, melapor mengelar pertunjukan sebanyak 14 kali. Baik pergelaran di Bojonegoro, juga luar daerah seperti Lamongan,Nganjuk, Jombang dan Jakarta.”Bahkan, ada seorang dalang wayang thengul Bojonegoro yang diminta main di Kalimantan,”ungkapnya.

Sementara itu, dari 38 dalang wayang kulit di Bojonegoro, pada Juni hanya mengelar pertunjukkan delapan kali.Menurut Saptatik, masyarakat lebih senang dengan pertunjukkan wayang thengul, sebab biaya menanggap lebih murah dibandingkan dengan wayang kulit. Sebuah pertunjukan wayang thengul. biayanya berkisar Rp7 juta sekali pertunjukan. Sedangkan wayang kulit sekali pertunjukan biaya membayar dalang juga keperluan lainnya bisa mencapai Rp10 juta.

Di lain pihak, lanjutnya, pertunjukan wayang thengul lebih komunikatif dibandingkan dengan wayang kulit. Dalam pertunjukan wayang thengul, penonton bisa terlibat dengan memesan tembang, termasuk bisa ikut menari ketika acara “geyeran” atau menari dan tembang.”Penonton bisa memesan tembang kesukaannya kepada pesinden sekaligus bisa ikut menari,” tandasnya.

Dia menjelaskan, jumlah dalang wayang kulit dan dalang wayang thengul di Bojonegoro, jumlahnya masih tetap tidak ada perubahan dalam tiga tahun terakhir. Untuk dalang wayang kulit 38 dalang, wayang thengul 18 dalang dan wayang krucil tiga dalang, di antaranya ada dua dalang yang masih berusia muda. Mereka, Rian (26) alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, Jateng dan Bayu Setiatmaja (25).”Munculnya dalang muda itu, membuktikan generasi penerus dalang wayang kulit dan thengul tidak mati,” jelasnya.

Selain itu, seorang dalang wayang thengul senior, Mardji Martodeglek, selalu berkeliling dari kampung ke kampung untuk menggelar pertunjukan wayang thengul dengan cara mengamen. (ANT/P003)

http://www.antaranews.com/berita/1280380892/dalang-thengul-lebih-laku-di-bojonegoro

Filed under: uncategorized, ,

Dongeng Italia di Lembaran Grafis

Bulan sabit kuning tergantung di langit cokelat tua kehitaman. Sinarnya tak cukup kuat untuk menerangi seluruh bangunan yang berjejer horizontal. Malam itu, garis-garis kuning senada hanya berjalan di tepi-tepi atap dan samping rumah, kubah, kerucut menara, dan jendela-jendela Colosseum Roma.

Tapi suasana yang tampak tenang itu berubah mencekam. Sesosok bayangan rangka dinosaurus yang berjalan dengan dua kaki belakang melintas di wajah kota. Tubuhnya menjulang ke langit hingga kedua kaki depannya setinggi posisi bulan.

Begitulah cara seniman Italia, Enzo Cucchi, menggambarkan ibu kota negaranya. Gambar grafis berjudul Roma buatan 1991 itu dicetak di atas kertas 136 x 261 sentimeter. Pada seri karya lain bertajuk La Lupa di Roma (Serigala Roma) I-III, Cucchi menampilkan kuburan dan tengkorak-tengkorak hewan dengan gaya agak abstrak.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: seni rupa, , , , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.