KOTA Medan yang didirikan oleh Guru Patimpus, penuh dengan sejarah baik budaya dan adat-istiadatnya akan diangkat ke atas panggung oleh Urban Arts Associates, yang dibentuk Ben M Pasaribu selaku curator/artistic director, dibantu oleh Afrion M. Mahyuddin sebagai programme director, Ifda Hanum Chan sebagai secretary dan Dilinar Adlin sebagai treasures, didukung Dewan Penasehat (Board of Advisors) yaitu: H. Syarifuddin SH, Dr. Robert Valentino Tarigan, Iskandar ST, Hj. Anita Ch Daryatmo, Effendi Naibaho, Antilan Purba, T. Mira R Sinar dan Grace Siregar.
Pergelaran dilangsung dalam rangka memperingati hari jadi ke-418 Kota Medan pada 1 Juli 2008. Dalam acara itu, Urban Arts Associates akan menyelenggarakan beragam kegiatan festival seni bertajuk: Medan Urban Arts Festival 2008 atau Festival Seni Kota Medan. Acaranya akan berlangsung mulai 29 Maret s/d 28 Juni 2008 di berbagai tempat, antara lain Taman Budaya Sumatera Utara, Lapangan Merdeka (Merdeka Walk), Garuda Plaza Hotel, Galery Tondi, Galeri SIMPASSRI, Unimed dan Universitas Sumatera Utara.
“Festival seni yang meliputi; festival film, festival akting (obsesi sutradara), festival musik, festival seni tari, pameran seni rupa, pameran puisi & potret penyair, seminar & workshop, dan lomba baca puisi serta temu penyair Medan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya (gratis), “kata Ben kepada penulis, kemarin. Medan Urban Arts Festival 2008 sebagai forum dialog lintas generasi merupakan kegiatan seni yang akan mempertemukan karya-karya kreatif dari para seniman Medan, juga dari berbagai daerah di Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Pekanbaru, Palembang, Bandar Lampung dan Jakarta.
Dalam kaitan ini, jika bicara budaya seni urban, tidak terlepas dari keberadaan seni populer, sebaliknya jika membicarakan seni populer maka tidak akan terlepas dari membicarakan teknologi industri – yang selalu berhubungan dengan selera pasar. Budaya seni tradisi yang ada di kota, terdesak oleh seni modern yang dikembangkan masyarakat urban. Sejarah kebudayaan masyarakat kota (urban) saling berinteraksi dengan budaya tradisi yang dibawa oleh para pendatang dari desa, sehingga menyebabkan masyarakat yang semula bersifat homogen kini menjadi heterogen.
Heterogenitas ini merupakan ciri-ciri masyarakat kota. Mereka berada antara hidup segregatif di satu sisi dan integrasi di sisi lainnya. Berubahnya pola pikir masyarakat pada kawasan tertentu dari sifatnya yang homogen menjadi heterogen, disebabkan adanya pengaruh proses migrasi. Penduduk pedesaan pindah ke kota (urbanisasi), beban di daerah perkotaan menjadi lebih berat, baik dalam penyediaan fasilitas hunian, lapangan kerja, prasarana dan sarana pelayanan perkotaan.
Kekuatan-kekuatan sosial yang muncul di kota, memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi, sosial politik dan kebudayaaan. Mobilitas sosial masyarakat yang tinggi termasuk adanya urbanisasi, merupakan faktor utama terjadinya perubahan sosial. Mereka masing-masing membentuk jaringan sosial dengan para migran baru yang berasal dari kelompol etnik tertentu. (Takari, 82-83).
Dapat dipastikan bahwa masyarakat Kota Medan yang semula bersifat homogen, kini berkembang menjadi heterogen dengan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya. Sebaliknya, kepadatan penduduk kota dan perkembangan sosial ekonomi, menyebabkan terjadinya diversifikasi dalam hal lapangan pekerjaan, tenaga kerja, kebutuhan, maupun hiburan bagi penduduk kota.
Dalam hal perkembangan nilai-nilai budaya dan seni tradisi juga turut mengalami penyesuaian dengan kebudayaan kota dengan pola-pola tertentu. Terlebih lagi dalam memanfaatkan suatu ruang sebagai sarana dan prasarana publik, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya seni urban yang kompleks, yang disebabkan karena kota mempunyai daya tarik yang kuat karena menjanjikan kesempatan yang lebih luas, pendapatan yang lebih tinggi dan peluang untuk maju yang lebih luas. Beberapa di antaranya memilih profesi sebagai pekerja seni dan berhasil mempertunjukkan karya-karya seni terbaik mereka. Semangat pencapaian kreatifitas berkarya, akhirnya melahirkan tokoh-tokoh seniman dan budayawan dari berbagai etnis di Sumatera Utara.
Menurut Ben, istilah Urban Arts digunakan untuk memberikan batasan wilayah garapan dengan pengertian bahwa seni urban merupakan kesatuan bentuk yang hidup dan berkembang di kota. Dari segi bentuk garapan bisa jadi mengadopsi seni tradisi atau setidaknya mengalami penyesuaian dan perubahan baik dari segi isi dan bentuk maupun konsep garapannya.
Pengaruh seni tradisi dalam masyarakat urban, bisa jadi berawal dari keinginan untuk mengambangkannya lebih lanjut, biasanya ditandai dengan pemanfaatan alat-alat musik modern kemudian menggabungkannya dengan instrumentasi musik tradisi sesuai dengan tuntutan masa dan generasi yang mengusungnya, yang memungkinkan dapat hidup dan bertahan di tengah laju pertumbuhan kota dan zaman yang makin berkembang dalam globalisasi dunia.
Tentang keberadaan pertumbuhan seni urban yang ada di wilayah kota misalnya, adanya upaya penggalian musik-musik tradisi oleh kelompok Incidental Musik dengan penggabungan beberapa instrumentasi tradisi–modern akhirnya menjadi satu komposisi musik yang kemudian mereka sebut musik tradisi–kontemporer. Komposisi musik lainnya dari Kolegium Musikum UNIMED menampilkan jazz dengan separangkatan alat musik tradisional. Dalam hal ini tidak hanya menawarkan irama dan bentuk, tetapi juga berkemampuan memunculkan khas genre musik baru yang memukau.
Pemaknaan Urban Arts berinteraksi dengan perkembangan kesenian dan kebudayaan masyarakat kota. Khususnya seni tradisi yang bermigrasi bersamaan dengan berpindahnya kelompok maupun perorangan ke dalam wilayah kota. Salah satu contoh, hadirnya fenomena musik jalanan yang selama ini diusung oleh para pengamen musik anak-anak jalanan. Mereka umumnya adalah mahasiswa yang mencoba bertahan hidup di kota dengan melakukan serangkaian kegiatan bermain musik dari satu tempat ke tempat lainnya di kota.
Kehadiran kelompok punky yang selalu diidentikkan sebagai kaum urakan dengan memberi gaya penampilan, baik dari segi rambut maupun cara berpakaian. Seni graffiti yang cenderung melukis dengan media dinding tembok kota. Wacana yang muncul dari kreatifitas anak-anak jalanan di kota ini cenderung mengarah ke bentuk-bentuk seni eksperimental yang mencoba memahami sekaligus membedakan seni yang mereka kerjakan berbeda dengan seni yang selama ini mereka geluti di daerah asalnya (desa).
Landasan pemahaman karya eksperimental seperti ini bisa jadi menumbuhkan realitas seni baru terutama menyangkut soal bentuk dan jenis aliran maupun genre yang tumbuh dari semangat bereksperimen. Contoh lain, penampilan kelompok Incidental Musik pimpinan Hendrik Paranginangin dan Kolegium Musikum pimpinan Mukhlis Hasbullah, keduanya melakukan kolaborasi alat musik tradisi dengan alat musik modern.
Seni urban di Medan berkembang di tengah kebudayaan seni populer yang dipengaruhi oleh budaya barat. Dalam konteks itu, pelaksanaan Medan Urban Arts Festival yang diselenggarakan oleh Urban Arts Assosiates mencoba menawarkan fenomena lain dari berbagai sudut pandang garapan, teknis, dan konsep kultural. Diharapkan seni tradisi tetap dapat hidup secara berdampingan dengan seni modern yang diusung kaum urban.
Afrion
(wns)
WASPADA Online, 02 Maret 2008
Filed under: uncategorized, medan, medan urban, urban arts assosiates
Respon